Archive for June, 2011

Cara Halus Bilang TIdak

Bagi Mary Kay Ash, pengusaha di bisnis kosmetik, manajemen waktu sudah lama jadi perhatian utamanya. Ia sadar, telepon merupakan sarana penting untuk mencapai sukses. Sayang, juga memboroskan banyak waktu. Sebagai orang sibuk, tak jarang dering telepon dari teman bisa menjadi masalah.
Maka setiap kali teman menelepon dan bertanya, “Punya waktu sebentar?”, jawaban Mary bukan “Maaf, saya sedang sibuk”. Rupanya ia sudah mempunyai kiat tersendiri. Sengaja dibelinya bel pintu, yang dibunyikannya saat obrolan sudah melantur berlarut-larut. Kebetulan juga ia memelihara anjing yang menyalak setiap kali bel berdering. Maka ia lantas bisa berkata dengan enak, “Maaf, ada bel.” Cara ini akan sukses mengakhiri obrolan tak menentu tanpa menimbulkan rasa sakit hati.
Umumnya kita memang sulit mengatakan “tidak”. Seperti halnya Mary Kay Ash, kita tak ingin menyinggung perasaan atau mengecewakan orang lain. Sepanjang permintaan bicara itu penting, okelah. Tapi bila kita sedang tidak siap atau sedang tak berselera ngobrol, justru perasaan kita sendiri yang bisa tersiksa.
Sungguh keliru berkata “ya”, kalau sesungguhnya kita ingin berkata “tidak”. Demikian pendapat terapis Herbert Fensterheim, Ph.D., pengarang Don’t Say Yes When You Want to Say No.
Bahkan ia yakin ketidaksanggupan berkata “tidak” bisa menimbulkan konsekuensi negatif. Pertama, kita akan terbawa dalam kegiatan yang kita sendiri tidak sreg untuk melakukannya. Membiarkan orang lain ngerecoki, bisa menciptakan kekesalan dalam diri. Kedua, menyebabkan kita kurang komunikatif dengan orang lain. Adakalanya secara tegas mengatakan “tidak” bisa berarti amat menghemat waktu, di samping memelihara ketenangan diri. Ternyata mengatakan “tidak” terhadap permintaan atau ajakan, asalkan dengan cara yang halus, dinilai cukup bijaksana.
Berikut ini beberapa cara bijak untuk mengatakan “tidak”:

1. Sertakan pujian saat berkata “tidak”. Delores, guru besar Universitas East Coast di AS, punya jurus jitu menolak. Ia melunakkan penolakannya dengan pujian. Saat diminta menjadi dewan pengurus suatu organisasi, ia berkata, “Saya senang Anda memperhatikan saya. Saya memang penggemar berat organisasi Anda, sayang sekali jadwal saya tak memungkinkan menerima tawaran ini.” Begitu pula kita. Saat diajak makan siang, kita bisa menjawab, “Saya senang diajak makan siang, tapi sayang banyak tugas yang tak bisa dielakkan.” Atau, saat diundang ke pesta, kita berkata, “Sangat senang saya diundang ke rumah Anda. Bisa bertemu keluarga dan teman-teman Anda. Tapi maaf saya tidak dapat hadir saat ini.”

2. Menolak secara tegas dan meyakinkan. “Saya hargai Anda telah mengantar koran setiap hari, tetapi kali ini saya terpaksa tidak membacanya.” Ini contoh penolakan halus. Menyusun jawaban menolak secara meyakinkan memungkinkan kita tetap bisa menjaga hubungan/persabahatan, sekaligus menghindari rasa sakit hati. Jawaban tegas lain, “Tawarannya sangat bagus, tetapi maaf sekali kami tidak mungkin menerimanya saat ini.” “Gagasan bagus (atau produk yang bagus), tapi belum kami perlukan saat ini.”

3. Menawarkan kompromi. Karena tak mungkin menampung semua permintaan, perlu dipertimbangkan tanggapan secara tegas dan meyakinkan. Dalam buku Your Perfect Right: A Guide to Assertive Living , Robert E. Alberti, Ph. D., dan Michael L. Emmons, Ph. D., memberikan contoh ini, “Ibu mertua menelepon untuk mengabarkan rencananya mengunjungi Anda selama tiga minggu.”
Pengarang buku itu mencatat tiga kemungkinan jawaban Anda:

a. Anda berpikir, “Aduh, celaka!”, tapi berkata, “Kami senang Ibu akan berkunjung. Tinggallah selama Ibu suka.”
b. Anda pura-pura berterus terang dengan mengatakan bahwa anak-anak sedang pilek, atau Anda pas ke luar kota saat dia berkunjungan.
c. Anda dapat menolak, tetapi dengan nada kompromistis, “Kami senang Ibu akan datang, tapi kalau tidak terlalu lama, barangkali akan lebih menyenangkan. Kita malah akan lebih cepat ingin bertemu lagi. Masalahnya, anak-anak banyak kegiatan sekolah, atau, kami banyak kegiatan lingkungan yang menyita waktu sepulang bekerja.”

4. Berlatih layaknya tokoh masyarakat. Mereka umumnya berlatih agar mampu menyampaikan tanggapan dengan percaya diri dan meyakinkan saat berhadapan dengan wartawan. Prinsip yang sama juga berlaku bagi Anda untuk menyatakan “tidak”. Praktikkan dan berlatihlah di dalam hati atau langsung di hadapan anggota keluarga atau teman.

5. Minta waktu. Dengan maksud menolak, kita bisa menjawab, “Coba saya pikirkan dulu”; “Bagaimana kalau saya membicarakannya dengan suami/istri, keluarga, dsb.?”; “Saya akan periksa agenda dulu”; “Sekarang saya sungguh belum ada waktu. Bagaimana kalau saya minta waktu 1 – 2 hari lagi untuk menanggapi?”
Siasat itu memberikan tiga keuntungan. Pertama, kita punya waktu untuk membuat alasan yang bisa diterima. Kedua, masih ada kesempatan bagi kita untuk mempertimbangkan lagi permintaan itu. Ketiga, kita membuat senang orang lain dengan sikap seolah-olah menerima permintaan itu secara serius.

6. Jawaban singkat dan to the point. Bulatkan pikiran dan katakan secara terus terang penolakan itu. Contoh, “Maaf, saya tak bisa duduk dalam kepengurusan yayasan ini.” Singkat dan to the point. Penjelasan panjang lebar, kenapa tidak dapat atau tidak setuju, justru memungkinkan orang mengejar alasan-alasan kita. Sebuah contoh dialami Louise. Ia pernah gagal menolak, karena menyampaikan banyak alasan kenapa tak mau duduk dalam kepengurusan yayasan penyelenggara pendidikan pra-sekolah, tempat anaknya (4 tahun) menjalani pendidikan.
“Saya menjelaskan bahwa pengurus rapat setiap minggu dan saya tak punya waktu senggang. Saya juga tidak mempunyai sarana trasportasi malam hari. Saya malah tersudut ketika mereka menanggapi, ‘Anda tidak harus datang setiap minggu, cukup dua minggu sekali. Jangan cemas soal angkutan, akan ada anggota pengurus yang menjemput.'” Jadi, jawaban terbaik adalah singkat dan sederhana, “Maaf, tidak, saya tidak dapat duduk dalam kepengurusan yayasan!”

7. Katakan “tidak”. Cara terbaik untuk menolak adalah dengan berkata “tidak”. Jangan takut berkata “tidak”. Jika kita menyanggupi semua permintaan orang lain, dari duduk dalam kepengurusan atau kepanitiaan, menghadiri makan siang dan makan malam, dst. jelas kita tidak akan punya waktu untuk mengerjakan hal lain. Ikut berperan serta itu baik, sepanjang ada waktu. Bagaimana mungkin kita dapat mengelola waktu, jika waktu itu sudah kita berikan kepada setiap orang?
Begitu kita terbiasa berkata “tidak”, kita pun akan merasakan keuntungannya. Harga diri semakin kuat, rasa gelisah dan depresi berkurang, dan kita pun semakin profesional. (Rye/Victor M. Parachin)

Anda dapat mengunjungi kami di :
www.outboundmalang.com
www.outboundgames.com
www.kasembon-rafting.com
www.wisataoutboundanak.com

The Opposite

Pendahuluan dan Persiapan
Games ini dapat dimainkan di dalam maupun di luar ruangan. Peserta dibagi dalam 3-4 kelompok yang terdiri dari 6-10 orang.
Instruksi dan petunjuk permainan
 Setiap kelompok diminta membentuk barisan ke belakang seperti kereta, dengan tangan memegang bahu atau pinggang kawan yang ada di depannya.
 Jika memungkinkan, minta mereka memeluk rekan yang ada didepannya masing-masing.
 Kemudian kita beri aba-aba untuk mereka secara bersama-sama bergerak ke kiri atau ke kanan atau ke depan ke belakang sesuai instruksi,
 Peserta harus bergerak dengan cara melompat bersama, tanpa boleh barisannya putus atau rusak.
 Setelah beberapa kali mencoba ke arah yang sesuai dengan instruksi, maka kemudian mereka harus melakukan gerakan yang berlawanan dengan instruksi yang diberikan.
Larangan dan hukuman
 Barisannya tidak boleh putus atau rusak.
 Minta mereka untuk tidak bersuara (yang dapat dijadikan “alat bantu komando”) pada saat melakukan gerakan.
 Bagi kelompok yang salah atau ada anggota kelompoknya salah melakukan pergerakan maka kelompok tersebut harus gugur
Target
 Permainan terus dilanjutkan hingga didapat pemenang, yaitu yang tidak pernah melakukan kesalahan
Variasi
 Untuk mendistorsi, kita dapat memberi instruksi dengan ditambahkan gerakan tangan atau kita melompat juga sambil memberi instruksi.
 Games ini dapat dimainkan di dalam maupun di luar ruangan.
mau Rafting atau outbound???
Jangan ragu hubungi kami di :
hotline : 081233342777
fleksi : 0341-7027933

10 Saran Sopan santun dalam ber email

Bagi sebagian besar orang, email tampaknya menjadi rahmat sekaligus bencana. Email dapat menghemat biaya komunikasi, terutama pada orang-orang yang jarang berhubungan dengan kita. Namun, dapat membuat kita menderita dengan menerima banjir “spam email”. Tidak banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menghadapi para “spammers” ini kecuali terus-menerus melaporkannya pada “network administratur” kita. Bagaimanapun, dalam melakukan korespondensi pribadi, kita seyogyanya tetap bersopan-santun untuk menjaga hubungan baik.
Berikut 10 saran bersopan-santun dalam ber-email ria :
1.. Benahi susunan email “forwards” anda.
Bila anda ingin memforward sebagian atau seluruh pesan pada pihak lain, maka luangkan sedikit waktu anda untuk menghapus tanda yang biasanya muncul. Seperti tanda “” dsb.

2.. Gantilah “Subject” atau judul email bila topik pembicaraan anda berubah.
Seringkali setelah saling bertukar email beberapa kali, topik pembicaraan berubah dari aslinya, namun “subject” atau judul email belum juga diganti. Akan jauh lebih mudah untuk melacak email yang masuk bila “subject” disesuaikan dan dapat mencerminkan isi email yang sedang anda tulis.

3.. Hapuslah pesan reply yang tidak perlu.
Beberapa program email secara otomatis memunculkan isi email yang terdahulu bila anda sedang membalas/mereplynya. Ada baiknya anda menghapus pesan tersebut dan hanya tinggalkan pesan yang benar-benar anda anggap perlu.

4.. Jangan teruskan surat berantai.
Anda tentu merasa terganggu dan jengkel bila seseorang mengirimi anda sebuah email tentang humor atau cerita-cerita, kemudian meminta anda untuk meneruskannya dengan segera pada 10 teman anda yang lain, atau bila tidak maka anda akan ketiban sial. Mengapa anda juga bermaksud mengganggu dan membuat orang lain jengkel bila anda meneruskan email semacam ini? Hapus saja dengan menekan tombol “delete”.

5.. Hormati privacy orang lain.
Ini termasuk juga alamat email mereka. Bila anda sedang mengirim email ke sejumlah orang yang mungkin satu-sama-lain tidak saling mengenal, gunakan “BCC” atau “blind carbon copy” agar alamat-alamat email mereka tidak saling diketahui. Bila anda mudah mengirim email ke banyak alamat sekaligus tanpa mempertimbang – kan saran ini, maka bersiap-siaplah untuk dikomplain karena mereka menerima spam.

6.. Jangan melakukan spam.
Mungkin saja anda tidak sengaja melakukannya, tetapi banyak orang tidak menyadari jika mereka menggunakan alamat-alamat email yang mereka dapat dari “forwarded email”, kemudian menggunakannya tanpa permisi, ini termasuk bentuk spam.

7.. Jangan berteriak-teriak.
Menulis dengan mengaktifkan huruf besar (tombol “Caps Lock”) dapat diartikan sebagai pertanda kemarahan. Orang mungkin menganggap anda sebagai pengguna internet yang tidak baik, atau tidak sopan sama sekali.

8.. Jangan mudah “terbakar”, over-reaksi, atau terburu-buru menghapus suatu email tanpa berusaha memikirkannya dengan baik. Dalam bahasa tulis, kita memiliki waktu untuk memikirkan bagaimana kita merespon atas sesuatu email yang membuat kita marah. Begitu juga dengan beremail ria. Bila anda merasa dipenuhi dengan emosi yang kuat, kemudian menulis balasan dengan emosional pula, maka sebaiknya jangan keburu anda kirim email tersebut. Simpanlah dulu dalam “draft folder” selama beberapa hari untuk dibaca ulang. Banyak persahabatan yang hancur gara-gara terburu-buru menanggapi suatu email tanpa berusaha memikirkannya dengan bijaksana.

9.. Bersabarlah dalam menunggu “reply”.
Ketahuilah, orang tidak hanya hidup dengan internet. Mereka mungkin tidak membalas email anda dengan segera. Masih banyak orang yang men-cek email mereka seminggu sekali.

10.. Akuilah bahwa tidak semua orang senang menerima segala yang anda anggap lucu.
Jangan terus-menerus mengirimkan sesuatu pada mereka yang tidak pernah membalasnya, meskipun dengan ucapan terima kasih.
Jangan lupa: Luangkan waktu juga untuk memikirkan apa yang kita forward -kan dan kepada siapa kita mem-forwardkan suatu email. Tidak semua orang setuju atau suka dengan materi yang kita forwardkan. Untuk orang-orang tertentu, subyek-subyek tertentu (yang kita anggap lucu dan menarik atau ringan) bisa jadi sangat sensitif dan serius!!
(diadaptasi dari The Top 10 E-mail Courtesy Suggestions, Zoran Todorovich)
On Eagle’s Wings
Executive Adventure Outbound Malang, Selalu memberikan Yang terbaik untuk anda
hotline : 081233342777

Kunjungi kami di :
www.outboundmalang.com
www.kasembon-rafting.com
www.outboundgames.com
www.wisataoutboundanak.com

Belajarlah, kesempatan akan datang

“Sumber dari segala macam bencana dan kutukan terhadap umat manusia adalah kebodohan dan ketidakmengertian. Sumber dari terciptanya peradaban tinggi adalah masyarakat yang menghormati pendidikan”

Setiap Manusia mempunyai potensi dan kesempatan yang sama untuk bahagia dalam hidupnya. Walau ukuran kebahagiaan manusia tidak bisa disama ratakan, namun secara umum bisa dilihat dari kesuksesan yang diraih selama hidupnya. Kesuksesan tidak bisa didapat begitu saja, butuh perjuangan dan usaha keras. Salah satu yang harus dilakukan untuk mendapat kesuksesan ter – sebut adalah dengan belajar. Belajar, merupakan tugas, tanggung jawab dan panggilan pertama bagi tiap manusia. belajar, selain membuat pengetahuan yang kita miliki bertambah, kesempatan terbukanya pintu kesuksesan pun semakin lebar. Lantas bagaimana caranya agar kesuksesan yang ingin dicapai dengan cara belajar tersebut, dapat mudah kita raih ?? Ada beberapa hal yang patut kita ingat, ketika kita sedang belajar untuk menuju kesuksesan yaitu :

HASRAT KUAT :
Belajar tanpa disertai oleh keinginan dan hasrat yang kuat untuk menuju sukses, tak akan berhasil. Karena segala seuatu (termasuk belajar) yang dilakukan tidak dengan sungguh-sungguh, hasil yang dicapaipun akan ala kadarnya. Bila kesuksesan merupakan salah satu
proses yang ingin diraih untuk mencapai kebahagiaan, maka mulailah belajar sungguh-sungguh dengan hasrat kuat, keinginan dan harapan yang besar.

Selain keberhasilan tidak akan pernah singgah kepada orang-orang yang berhasrat lemah dan tak punya kemauan, tidak bisa dipungkiri bahwa segala sesuatu hanya akan terjadi bila kita menginginkan itu terjadi Seperti kata pepatah “Siapa yang berpikir dia bisa, maka dia akan bisa menjadi siapapun yang dia inginkan” Ciptakan dan penuhi alam bawah sadar kita dengan hasrat yang kuat untuk meraih harapan.

BERANI BELAJAR :
Semua orang pada dasarnya tidak tahu dan tidak mampu. Hanya orang- orang yang berani belajar yang akhirnya akan tahu dan mampu. Ada begitu banyak cara untuk belajar, baik melalui pengalaman diri sendiri pengalaman orang lain, buku-buku bacaan, perenungan, kursus ataupun pelatihan-pelatihan yang ada. Kita tinggal memilih cara belajar yang kita sukai. Namun harus dipastikan bahwa cara belajar yang dilakukan, bisa membuat kita lebih mengerti dan memahami banyak hal. Sehingga kita mampu melihat dan mengetahui bahwa ada banyak cara dan pilihan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

“Saya akan belajar, maka kesempatan akan datang” sunggu tepat apa yang di ikatakanAbraham Lincoln tersebut Sebab tanpa belajar, maka segala kemungkinan menuju kesuksesan bisa hilang. Untuk menjadi ciri yang selalu belajar (a becoming learling person) diperlukan keberanian dan ketabahan, yang berakibat terbukanya segala kemungkinan untuk kehidupan yang lebih baik.

BERANI BERUBAH :
“Learning has not taken place, until behaviour has changed,: belajar tidak akan berarti apa-apa,sampai terjadi perubahan perilaku. Dengan belajar pengetahuan dan ketrampilan kita bertambah. Tetapi pengetahuan dan ketrampilan yang kita miliki tersebut tidak akan berarti apa-apa,jika ketrampilan yang kita miliki tersebut tidak sanggup merubah diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pengetahuan kita akan hemat tidak akan men- jadikan kita kaya kecuali kita berani berubah menjadi orang hemat dan mungkin akan kaya. Pengetahuan kita tentang kerja keras tak akan memberi manfaat, sampai kita berubah menjadi seorang pekerja keras dan meraih keberhasilan.

Setelah kita belajar, kita memiliki pengetahuan dan ketrampilan tentang hal-hal yang kita pelajar. Langkah berikutnya adalah bagaimana kita bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik, berdasarkan pengetahuan yang kita miliki. Perubahan itu mungkin terjadi begitu lambat. Bagi orang-orang tertentu hal itu mungkin menjadikannya frustasi sehingga proses belajarpun terhenti ditengah jalan, karena tidak merasa mendapatkan manfaat dari proses belajar. Namun perlu disadari bahwa jauh lebih sulit menerapkan apa yang kita ketahui, dibanding dengan proses belajar untuk mendapatkan pengetahuan itu sendiri. Perubahan kearah lebih baik yang terjadi pada diri kita, walau berjalan secara perlahan, sedikit demi sedikit, hal itu akan sangat besar artinya bagi kesuksesan kita.Teruslah belajar dan janganlah pernah menyerah, walau kegagalan bisa sewaktu-waktu menghampiri. Gagal bukan berarti mati, tapi gagal berarti ada banyak hal yang harus diperbaiki. Lupakan kata tidak mampu dan tidak mungkin, namun persiapkan fisik dan mental Anda untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Yuk Belajar yang Giat….
Executive adventure Outbound Malang, siap membantu anda

www.outboundmalang.com

Metode Outbound Training

Ada banyak cara provider outbound training melakukan kegiatan outboundnya. Metode yang biasa digunakan dalam pelatihan outbound training adalah :

1. Permainan kelompok

Dalam suatu kegiatan outbound training, banyak sekali permainan-permainan yang dilakukan secara berkelompok, baik yang sifatnya fun game maupun bersifat middle game. Beberapa permainan outbound yang biasa dilakukan secara berkelompok diantaranya :

– Human ladder

– Ring berpindah

– Hunter my name

– Mutiara dalam kerang

– Hollahop/webbing berantai

– All stand up

– Frantic ballon

– Train ballon

– Ball tossing

– Dan lain-lain

2. Kerja kelompok

Dalam suatu kegiatan outbound training, kerja kelompok biasa dikerjakan untuk mensimulasikan kehidupan yang nyata dalam permainan-permainan sederhana dalam kegiatan outbound. Beberapa kegiatan outbound yang mensimulasikan kegiatan ini diantaranya :

– Human ladder

– Time boom

– Pipa bocor

– Pulau terkecil

– Escsape from the island

– Pulau terkecil

– Crocodille river

– Dan lain-lain

3. Petualangan individual

Petualan individual perlu dilakukan dalam kegiatan outbound training untuk memberikan pengalaman baru pada para peserta outbound, menambah keberanian, cepat mengambil keputusan dan menambah rasa kemanusiaan. Game dalam petualangan individu biasa ada dalam permaianan high rope maupun permainan outbound lainnya. Diantaranya :

– Flying fox

– Two line bridge

– Jembatan elvis

– Solo camp

– Repeling

– Paralayang

– Airsoftgun

– Paint ball

– dll

4. Ceramah (keterkaitan antara kegiatan simulasi dengan prinsip manajemen)

Ceramah biasa dilakukan dalam kegiatan outbound training di malam hari.

5. Diskusi

Dalam suatu kegiatan outbound traning, diskusi diperlukan untuk memecahkan masalah yang ada, sehingga tujuan/goal dari outbound training yang dilakukan bisa tercapai

www.outboundmalang.com

Ice Breaking

Hampir semua latihan dapat digunakan sebagai sarana untuk memulai pelatihan dengan (icebreaker). Dua tujuan utama menggunakan icebreaker adalah:

1. Memberi peluang kepada peserta untuk memperkenalkan diri satu sama lain

2. Untuk menuntun mereka ke pokok permasalahan. Peserta seringkali mendapati bahwa pokok permasalahan akan lebih jelas dengan penggunaan icebreaker yang tepat.

Latihan dalam pengelompokan ini adalah kontak pendahuluan yang tidak menakutkan. Dirancang untuk memberikan kesempatan kepada peserta agar dapat saling mengenal satu sama lain dan mengurangi penghalang yang mungkin muncul. Fasilitator berpengalaman mengatakan bahwa keberhasilan atau kegagalan suatu program tergantung pada dua poin ini.

Semakin peserta merasa nyaman satu sama lain, maka semakin baik lingkungan pembelajaran. Jika peserta merasa nyaman satu sama lain, dengan senang hati mereka akan berpartisipasi dan mengeluarkan ide-ide baru.

Meskipun kebanyakan fasilitator menilai bahwa latihan ini tidaklah terlalu menakutkan, beberapa peserta mungkin merasa sebaliknya. Jika seorang peserta memandang latihan itu menakutkan, pastikan bahwa mereka tetap memiliki cara agar dapat berpartisipasi. Merupakan keputusan bijaksana untuk membiarkan orang tahu sejak awal program bahwa mereka dapat melewati setiap latihan atau kegiatan yang tidak mereka sukai.